Sunday, September 30, 2012

Menyerang Adalah Pertahanan yang Terbaik

Sutopo Purwo Nugroho - detikNews

Jakarta - Siapa menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia! Itu adalah sebuat tesis yang terbukti banyak diterapkan di banyak negara atau perusahaan yang pada akhirnya membuatnya unggul. Lihat saja teknologi Google. Melalui Google kita bisa mencari informasi apa saja yang ada di dunia dengan cepatnya.

Demikian pentingnya informasi, maka semua berlomba-lomba memperolehnya agar menjadi yang tercepat. Bahkan ketika ada kejadian berada di daerah yang terpencil, di puncak gunung, atau di tengah samudera pun, informasi tersebut akan dikejar. Media akan berlomba-lomba menjadi yang tercepat dan terakurat dalam menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat. Ini juga untuk menunjukkan eksistensi dan gengsi dari media tersebut.

Di sinilah sesungguhnya peran pentingnya humas atau public relations dalam menyediakan informasi. Kita hampir setiap hari membaca, mendengar dan melihat di berbagai media massa yang memberitakan hal-hal yang negatif dari kinerja pemerintah. Misal, tawuran anak sekolah di Jakarta yang menimbulkan korban siswa meninggal. Dari kejadian tersebut lantas muncul opini yang mengatakan bahwa Dinas Pendidikan tidak punya program yang jelas, kepala sekolah tidak mendidik budi pekerti siswa, pembiaran tawuran oleh polisi, tidak berjalannya intelijen, pendidikan yang kurang berhasil, dan sebagainya. Padahal sesungguhnya tidak sepenuhnya benar opini semua itu. Ini terjadi akibat tidak imbangnya informasi dari institusi yang menangani dengan fakta yang ada di lapangan.

Memang banyak masalah kompleks di lingkungan masyarakat kita. Namun bukan berarti pemerintah diam. Seolah-olah tidak melakukan apa-apa terhadap masalah yang akut terjadi di masyarakat kita.

Humas harus berani tampil melawan arus dengan cara-cara yang tidak konvensional. Spektrum hubungan antar masyarakat dunia makin terbuka, flat dan accessible. Artinya kejadian di suatu tempat yang lokal, bisa menjadi isu dunia karena tidak jelasnya batas-batas atau sekat dalam informasi yang ada. Apalagi dengan dunia internet yang tidak mengenal batas administrasi. Disinilah humas dapat menjadi tokoh sentral dalam menyampaikan informasi yang proporsional. Humas adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu organisasi, institusi, lembaga atau perusahaan.

Ini juga berlaku dalam hal bencana. Terlebih lagi saat bencana pasti ada indikator-indikator yang menarik untuk diliput, yaitu TRUTH = topical, relevant, unusual, trouble, human interest. Salah mengelola informasi bencana, maka yang muncul adalah berita yang negative. Padahal faktanya BNPB dan pelaku kemanusiaan lain bekerja 24/7. Artinya 24 jam sehari, dan 7 hari seminggu. Tidak ada istilah libur karena bencana tidak mengenal istilah libur. Sangat kompleks sekali penanganan bencana bahkan multidisiplin dan multi sektor. Media akan terus mencari informasi bencana tersebut dengan sisi yang beragam.

Oleh karena itu saya di BNPB selalu pro aktif memberikan informasi. Tanpa diminta pun setiap ada kejadian bencana, termasuk penanganan pasca bencana atau upaya preventif bencana, saya kirimkan berita ke semua media, baik nasional maupun internasional melalui jalur email, facebook, twitter, BBM, website dan lainnya. Hampir setiap hari informasi yang tentu saja, sudah saya analisis dan selektif saya sampaikan ke ribuan wartawan. Bahkan ketika, tanda-tanda suatu gunung akan meletus pun sudah saya sampaikan ke media sehingga langkah preventifnya dapat dilakukan. Dan ketika selang beberapa jam kemudian, ketika PVMBG menyampaikan letusan gunung tersebut, langsung saya broadcast-kan. Untuk info detailnya saya berikan nomor telepon dan kontak person di daerah sehingga wartawan dapat menggali informasi lebih lanjut. Saat itu juga para wartawan membalas terima kasih. Dan yang muncul akhirnya berita-berita yang positif.

Ini sangat penting bahwa memang kami bekerja. Jika pun ada kekurangan di lapangan adalah hal yang wajar. Saya akui hal itu. Itulah yang saya sebut sebagai pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Menyerang dengan memberikan informasi yang kita punyai kepada media massa. Jangan hanya pasif. Ada suatu masalah, justru humas diam saja, seolah-olah tidak tahu apa-apa. Yang terjadi akhirnya beritanya menjadi tidak terkontrol yang pada gilirannya justru menjerumuskan institusi kita sendiri.

Jujur saya katakan, saya tidak punya background pendidikan komunikasi atau kehumasan. Pendidikan saya dari S1, S2 hingga S3 semuanya terkait ilmu kebumian. Harusnya saya sudah orasi profesor riset di BPPT. Tetapi tersandera oleh birokrasi sehingga profesor saya telantar. Dan semua itu tidak ada kaitan dengan ilmu kehumasan. Tapi saya terus mencari bagaimana menjalin hubungan simbiosis mutualisme dengan media massa. Saya kembangkan banyak media sosial dan menjalin kekerabatan dengan banyak wartawan. Bagi saya, untuk membangkitkan opini publik yang positif terhadap sesuatu institusi, maka harus diberi penerangan-penerangan yang lengkap dan objektif mengenai kegiatan-kegiatan yang menyangkut kepentingan mereka, sehingga timbul pengertian daripadanya.

Selain itu saran dan kritik dari publik terhadap kebijakan institusi itu harus diperhatikan dan dihargai. Menurut saya, dalam kehumasan terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesuatu institusi dengan publiknya, sehingga akan timbul opini publik yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup institusi tersebut. Opini publik merupakan kekuatan inti bagi maju mundurnya sesuatu institusi atau perusahaan. Jadi kita harus well-informed dan memperhatikan public welfare.

Tentu saja peran kehumasan tidak lepas dari peranan individu yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, persyaratan mental harus kita pegang teguh, seperti kejujuran, integritas, loyalitas, disiplin, mau capek, human relations supel, tidak cepat merasa puas, berdedikasi, dan penuh inisiatif. Ini semua diperlukan guna menghadapi tekanan informasi yang cepat berkembang. Menurut saya, humas harus ditempatkan orang-orang yang mumpuni dan pintar. Sebab tatarannya bukan hanya mengabarkan berita tetapi juga mampu menganalisis bahkan mensintesis permasalahan yang ada.

Humas dianggap unit kerja yang tidak penting. Bahkan sebagian besar dijadikan satu dengan biro kepegawaian, biro umum, biro hukum atau lainnya. Bukan berarti saya merasa orang pintar, yang pantas jadi humas. Bukan itu! Saya punya pendapat seperti itu setelah merenung, mengamati, menganalisis dan mempraktikkan fungsi humas selama hampir dua tahun. Bisa saja pendapat saya itu juga salah.

Intinya kita harus well informed terhadap semua yang kita lakukan. Klien kita adalah publik, khususnya media massa dan masyarakat. Selama itu masih ada komplain dari mereka. Berarti kerja kita harus masih terus ditingkatkan. Memang tidak ada yang sempurna. Namun yang sudah dimiliki bisa secara kontinu dikembangkan. Sedangkan yang belum ada bisa diusahakan. Kita proses terus menerus di dalam kehidupan. Dalam setiap mengadakan relasi, kita membentuk pribadi kita. Di situ kita mempunyai kesempatan untuk memproses menciptakan yang belum dan perlu kita miliki, mengembangkan yang sudah kita miliki.

*) Dr Sutopo Purwo Nugroho, MSI adalah Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta, S2 di Pengelolaan DAS IPB Bogor, dan S3 Pengelolaan Lingkungan dan Sumberdaya Alam IPB Bogor
Powered by BroBerry®

No comments:

Post a Comment

Post a Comment